Juga dalam firman-Nya,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzaab[33]: 36).
Kesimpulannya, tidak ada orang yang mengagungkan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kecuali hanya orang-orang yang berpegang teguh dengan petunjuk beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berjalan di atasnya serta mengikuti petunjuk beliau.[1].
Para sahabat telah memperlihatkan praktek nyata yang sangat istimewa dan tindakan yang sangat jujur dalam membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan mengorbankan jiwa, harta dan anak untuk menebus beliau dalam kondisi senang atau tidak, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman-Nya,
“Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan kridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hasyr[59]: 8).
Barangsiapa yang ingin mencintai dan membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka hendaknya ia mengagungkan perkataan dan sunnah beliau melebihi pengagungannya terhadap perkataan selain beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Manakala pengagungan kepada Nabi telah meresap di hati, terpahat di dalamnya dalam kondisi apapun, maka pengaruh positifnya akan tampak nyata pada anggota badannya.
Saat itulah, akan terlihat lisannya terus memuji dan menyanjung beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta menyebut-nyebut sisi kebaikan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sementara organ tubuh lainnya juga terlihat mengikuti syariat yang dibawa beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta menjalankan apa yang menjadi hak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang berwujud pengagungan dan penghormatan. Dan bukti pengagungan yang benar dan tulus ialah mengagungkan petunjuk yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bawa berupa syariat yang terkandung dalam al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, yaitu dengan mengikuti dan berpegang teguh dengannya secara lahir dan batin serta menetapkannya sebagai hakim dalam seluruh aspek kehidupan dan segala urusan. Tidak mungkin keimanan akan sempurna tanpa itu.
Wallahu a’lam.
*Tulisan ini dikutip dari makalah Penulis berjudul Taqwiimul Mafaahi al-Khaati’ah ‘Indal Ghulaati wal Jufaati fid Difaa’i ‘anin Nabiyyi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dipresentasikan dalam muktamar bertema Nabiyyir Rahmati Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diadakan oleh Jum’iyyah al-Ilmiyyah as-Sa’uudiyyah lis Sunnati wa ‘Uluumiha di kota Riyadh Saudi Arabia.
...Alhamdulillaah selesai...
(Sumber: Majalah As-Sunnah EDISI 08/THN.XIV/MUHARRAM 1432H/DESEMBER 2010M, hlm. 36-38)
----------
[1] Huquuqun Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ‘ala Ummatihi, 2/475
No comments:
Post a Comment