Thursday, May 16, 2013

antara BENCANA dan MAKSIAT

Kemaksiatan sebagai sumber malapetaka diakhirat adalah suatu keyakinan yang jelas disepakati oleh seluruh kaum muslimin. Namun kemaksiatan sebagai sumber bencana dan musibah di dunia, mungkin merupakan keyakinan yang harus dijelaskan kepada sebagian orang.

Berbagai bencana dan musibah bertubi-tubi melanda kaum muslimin di negeri ini. Gelombang pasang tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, lumpur panas, angin topan, dan lain-lain. Semuanya itu menunjukkan kepada kita akan lemahnya makhluk Allah, terutama manusia. Namun, adakah diantara mereka yang mau melihat tanda-tanda kebesaran Allah ini dan mengambil pelajaran darinya?

Hikmah Suatu Bencana

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Setiap syariat dan takdir yang dia tetapkan pasti mengandung hikmah yang sangat agung, baik diketahui oleh manusia maupun tidak diketahui.

Tatkala Allah menciptakan dua makhlukNya, jin dan manusia, Dia menjelaskan bahwa hikmah terbesar adalah agar mereka beribadah kepada Allah. Dan demikianlah, ketika Allah menimpakan suatu musibah dan bencana, maka hikmah terbesar darinya adalah agar mereka kembali beribadah kepada Allah. Hikmah yang sesuai dengan tujuan penciptaan mereka.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah mersakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Maksiat Sebab Bencana

Ini artinya, Allah menimpakan bencana dan musibah kepada suatu kaum karena mereka jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka banyak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, janganlah kita tertipu oleh perkataan orang-orang kafir yang menyatakan bahwa bencana dan musibah ini terjadi karena semata-mata gejala alam, perubahan iklim, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang benar, Allah-lah yang menimpakan bencana ini kepada hambaNya dan hal itu adalah karena kemaksiatan yang mereka lakukan.

Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata,”Siapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi berarti dia telah membuat kerusakan di muka bumi. Karena kebaikan bumi dan langit-langit hanyalah dengan ketaatan.”(Tafsir Ibni Katsir 3/454).

Hal ini diperkuat dengan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Wahai kaum Muhajirin! Ada lima perkara jika kalian tertimpa dengannya, aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mengalaminya. Jika perbuatan zina telah tampak pada suatu kaum sehingga dilakukan terang-terangan, maka akan menyebar penyakit tha’un dan penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. Jika mereka mengurangi takaran dan timbangan, maka mereka akan ditimpa dengan kekeringan, beban hidup yang berat dan kezhaliman penguasa. Jika mereka tidak menunaikan zakat harta mereka, maka mereka akan terhalangi dari hujan. Seandainya bukan karena bianatang ternak, mereka tidak akan dihujani. Jika mereka membatalkan perjanjian dengan Allah dan RasulNya, maka Allah akan memberikan kekuasaan kepada musuh-musuh mereka dari golongan selain mereka, sehingga mereka (musuh-musuh itu) akan merampas sebagian yang ada pada mereka. Jika para pemimpin mereka tidak menghukumi dengan kitabullah dan tidak mencari kebaikan dari apa yang Allah turunkan, maka Allah akan menjadikan musibah mereka ada diantara mereka.” (Riwayat Ibnu Majah, di-hasan-kan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 106).

Kembali kepada Allah

Jika demikian, maka tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh sebagai solusi atas bencana yang menimpa ini kecuali dengan kembali beribadah kepada Allah dengan syariat yang disampaikan oleh utusanNya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun semata-mata pembenahan, perbaikan dan penjagaan lingkungan hidup tanpa disertai pembenahan akidah, ibadah dan akhlak umat, adalah usaha yang tidak akan membuahkan hasil yang hakiki.

Ibnu katsir rahimahullah berkata,”Oleh karena itu, ketika Isa bin Maryam ‘Alaihissalam turun di akhir zaman, dia menghukumi dengan syariat suci ini. Dia membunuh babi, mematahkan salib, menghapus jizyah, yakni meninggalkannya sehingga tidak diterima (dari orang kafir) kecuali masuk Islam atau diperangi. Lalu pada zaman beliau Allah membinasakan dajjal dan para pengikutnya serta ya’juj dan ma’juj. Ketika itu dikatakan kepada bumi ini, keluarkanlah barakahmu. Sehingga dari sebuah delima bisa dimakan oleh sekelompok manusia dan mereka bisa bernaung dengan kulitnya. Susu dari seekor unta cukup untuk sekelompok manusia. Hal itu tidak lain karena barakah dari pelaksanaan syariat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam.[1]
Maka setiap kali keadilan ditegakkan, barakah dan kebaikan akan semakin banyak. Oleh karena itu, telah ada dalam kitab shahih,[2] “Sesungguhnya seorang yang fajir (orang yang suka bermaksiat) jika meninggal dunia, maka seluruh hamba, negeri, pepohonan dan binatang-binatang akan merasa tenang.” (Tafsir Ibni Katsir 3/454).

Syirik Sebab Terbesar

Para ulama sepakat, bahwa syirik adalah dosa dan kemaksiatan terbesar. Dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat dan tauhid. Maka termasuk perkara yang mengherankan sekaligus memilukan hati orang-orang yang beriman, berbondong-bondong manusia kepada mbah anu atau mabh itu, untuk meminta perlindungan kepada mereka dari bencana ini. Atau mengusulkan kepada pemimpin suatu kaum untuk diruwat agar kaum itu selamat dan terhindar dari bencana.

Apakah mungkin, makhluk yang penuh dengan kelemahan dan kebutuahan ini mampu menandingi Allah Yang Maha Perkasa dan tidak butuh kepada seorang pun?Maka ambillah sebagai pelajaran wahai orang-orang yang berakal.

-------------

Catatan:

[1] Semua yang beliau sampaikan disini wajib kita yakini, karena berdasar kepada hadits-hadits yang shahih. Lihat diantaranya dalam kitab Asyrath as-Sa’ah hlm. 361-363.

[2] yaitu shahih al-Bukhari no. 6512 

(sumber: Majalah Nikah, Vol. 6, No. 12, Mar-Apr 2008, hlm. 15-16)

No comments:

Post a Comment