Tuesday, May 21, 2013

Wanita PENGHUNI Neraka (bag 01)

Saudariku Muslimah …

Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya.

Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.

Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan dibahas nanti.

Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”

Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

Wanita Penghuni Neraka

Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu 'anhum : “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

Saudariku Muslimah …

Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

Saudariku Muslimah …

Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :
1. Durhaka dengan ucapan.
2. Durhaka dengan perbuatan.
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

...in syaa Allaah bersambung...

Aku Takkan Lupakan Ilmu

Saudaraku…

Kita perlu mengingat kembali sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menggambarkan bagaimana Allah akan mencabut ilmu dari kehidupan dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan merenggutnya dari para manusia, namun ilmu itu dicabut dengan diwafatkannya para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ‘alim, maka manusia akan menjadikan para pembesar mereka dari kalangan orang-orang bodoh yang ditanya (tentang agama) lantas orang-orang bodoh itu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Al-Bukhari: 1: 174-175, Muslim no: 2673, At-Tirmidzi 2652)

Dalam hadits yang lain, beliau bersabda,

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan semakin merajalela, zina nampak di mana-mana, khamr diminum, kaum pria menjadi sedikit dan kaum wanita menjadi lebih banyak….” (Shahih dengan beberapa jalannya, Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Sahih: kitab “nikah” dari hadits Hafsh bin Umar dan kitab “ilmu”, demikian pula halnya Muslim dalam Shahih-nya: 4: 256, dan selain mereka) 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 500)

Al-Auza’i berkata bahwa Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan, “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan. Sementara ilmu diangkat dengan cepat. Kekokohan ilmu adalah keteguhan bagi agama dan dunia. Hilangnya ilmu adalah kehancuran bagi itu semua.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 817, dan Ibnu ‘Abdil Bar dalam Al-Jami’ 1018)

Saudaraku…

Yakinlah bahwa di antara kunci kebahagiaan dunia dan akherat adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Itulah yang akan menumbuhkan khasyyah dan sikap takut kepada Allah, merasa diawasi sehingga waspada terhadap semua ancaman Allah. Semua itu tidaklah didapatkan kecuali dengan ilmu syar’i. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya hanyalah para ulama yang memiliki khasyyah kepada Allah.” (QS. Fathir: 28)

Ath-Thabari berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah, menjaga diri dari adzab dengan menjalankan ketaatan kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu. Mereka mengetahui bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu, maka mereka menghindar dari kemaksiatan yang akan menyebabkan murka dan adzab Allah…” (Lihat Tafsir Ath-Thabari QS Fathir; ayat: 28)

‘Abdullah bin Mas’ud dan Masruq berkata, “Cukuplah ilmu membuat seseorang takut kepada Allah, dan sebaliknya kebodohan menyebabkan seseorang lalai dari mengenal Allah.”

Al-Baghawi menyebutkan bahwa seseorang memanggil dan berkata kepada Sya’bi, “Wahai ‘aalim berfatwalah.” Sya’bi menjawab, “Sesungguhnya seorang ‘alim adalah yang memiliki khasyyah (rasa takut) kepada Allah.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud hal: 15, dan Ahmad dalam Az-Zuhud hal: 858 dan Lihat Tafsir Al-Baghawi QS Fathir; ayat: 28)

Syaikh As-Sa’di berkata dalam tafsir dari Surat Al-Faaathir ayat 28, “Ayat ini adalah dalil keutamaan ilmu, karena ilmu akan menumbuhkan sikap khasyyah (takut) kepada Allah. Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang akan mendapatkan kemuliaan Allah sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Itu hanya bagi orang-orang yang memiliki khasyyah kepadaNya.” (Lihat Tafsir As-Sa’di QS Fathir, ayat: 28)

Dengan ilmu kita dapat menumbuhkan sikap khasyyah kepada Allah dan itulah muraqabah yang akan membimbing langkah-langkah kita menuju ridha Allah.

Sufyan berkata, “Barangsiapa yang berharap (kebahagiaan) dunia dan akherat, hendaklah ia menuntut ilmu syar’i.”

An-Nadhr bin Syumail berkata, “Barangsiapa yang ingin dimuliakan di dunia dan akherat, hendaklah ia menuntut ilmu syar’i. Cukuplah menjadi kebahagiaan bagi dirinya jika ia dipercaya dalam perkara agama Allah, serta menjadi perantara antara seorang hamba dengan Allah.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 503-504)

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu syar’i karena mempelajarinya di jalan Allah adalah khasyyah, memperdalamnya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih (memuji Allah), membahas (permasalahan-permasalahannya) adalah jihad, mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, dengan ilmulah Allah diketahui dan disembah, dengannya Allah diesakan dalam tauhid, dan dengannya pula diketahui yang halal dan yang haram…” (Hilayatul Auliya karya Abu Nu’aim 1: 239, Al-Ajmi’ oleh Ibnu ‘Abdil Bar 1: 65) 

Seorang penyair berkata:

Ilmu adalah harta dan tabungan yang tak akan habis…
Sebaik-baik teman yang bersahabat adalah ilmu…
Terkadang seseorang mengumpulkan harta kemudian kehilangannya…
Tidak seberapa namun meninggalkan kehinaan dan perseteruan…
Adapun penuntut ilmu, ia selalu membuat iri (ghibthah) banyak orang…
Namun dirinya tidak pernah merasa takut akan kehilangannya…
Wahai para penuntut ilmu, betapa berharga hartamu itu…
yang tak dapat dibandingkan dengan emas ataupun mutiara…
(Diterjemahkan dari Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 507)

Karenanya, Luqman berwasiat kepada putranya, “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, dekatilah mereka dengan kedua lututmu. Sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan pelita “hikmah” sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang gersang dengan air hujan.” (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2: 1002). Hikmah yang beliau maksud adalah yang Allah sebutkan dalam firmanNya (QS Al-Baqarah: 269) yang artinya, “Allah menganugerahkan “hikmah” kepada yang Allah kehendaki, barangsiapa telah diberikan hikmah maka ia telah diberikan banyak kebaikan…” Qutaibah dan Jumhur ulama berkata “hikmah adalah mengetahui yang haq dengan sebenarnya serta mengamalkannya. Itulah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 227)

Imam Ahmad berkata, “Manusia lebih membutuhkan ilmu dibandingkan makan dan minum, karena makanan dan minuman dibutuhkan manusia satu atau dua kali dalam satu hari. Akan tetapi, ilmu senantiasa dibutuhkan seorang manusia setiap saat (selama nafasnya berhembus)”…(Thabaqat Al-Hanabilah; 1: 146)

Saudaraku, Belum Terlambat dan Tidak Ada Kata Malu

‘Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak terhalangi oleh rasa malu untuk mempelajari semua perkara agama ini.”

Mujahid juga berkata, “Seorang pemalu atau sombong tidaklah dapat menuntut ilmu. Yang satu terhalangi dari menuntut ilmu oleh rasa malunya. Sementara yang satu lagi terhalangi oleh kesombongannya.” (Al-Bukhari menyebutkannya secar mu’allaq dalam Shahih-nya 1: 229)

Mari bersama-sama kita membangkitkan semangat menuntut ilmu syar’i agar dengannya kita mendapatkan pelita nan bercahaya, menerangi setiap amalan hidup kita, membimbing setiap pola pikir dan langkah kita, memperbaiki setiap niat hati kita, membuat kita senantiasa takut karena merasa diawasi oleh Allah. Jika ilmu itu telah sampai maka jangan kita melupakannya dan mari kita berlomba untuk mengamalkannya.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Ilmu membisikkan pemiliknya untuk diamalkan. Jika ia menjawab panggilan bisikan itu, maka ilmu akan tetap ada. Namun jika ia tidak menjawab panggilan itu, maka ilmu akan pergi.” (Iqtidhaul ‘Ilmil amal karya Al-Khathib: hal 41)

Semoga Allah melimpahkan taufiqNya kepada kita untuk ikhlas dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah di jalan-Nya.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia serta akherat dengan ilmu, aamiin…

***

Penulis: Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

Pernyataan Para Imam untuk Mengikuti As-Sunnah dan Meninggalkan Pendapat Mereka yang Bertentangan dengan As-Sunnah

•Al-Imam Abu Hanifah Rahimahullaahu

-“Bila suatu hadits telah shahih maka itu lah pendapatku.” (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abidin dalam Al-Hasyiyah (I/63) dan Rasmul Mufti (I/4 dari kitab Majmu’ah Rasa’il Ibnu ‘Abidin)).

-“Tidak halal bagi seorang pun untuk mengambil ucapan kami selama dia belum mengetahui dari mana kami mengambil ucapan tersebut.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Al-Intiqa’ fi Fadha’il Ats-Tsalatsah Al-Aimah Al-Fuqaha’ (hal. 145), Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/309), Ibnu ‘Abidin dalam hasyiyah beliau terhadap kitab Al-Bahr ar-Ra’iq (6/293) dan dalam Rasmul Mufti (hal. 29 dan 32), Asy-Sya’rany dalam Al-Mizan (1/55)).

-“Jika aku mengatakan suatu ucapan yang bertentangan dengan Kitabullah Ta’ala dan kabar dari Ar-Rasul Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam maka tinggalkan ucapanku tersebut.” (diriwayatkan oleh Al-Fulany dalam Al-Iqadh (hal. 50)).

•Al-Imam Malik bin Anas Rahimahullaahu

-“Aku adalah seorang manusia biasa, terkadang salah dan terkadang benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah maka ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah !” (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Bar dalam Al-Jami’ (2/32), Ibnu Hazm dalam Ushul Ahkam (6/149), demikian pula Al-Fulany (hal. 72)).

-“Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali bisa diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.” (dishahihkan oleh Ibnu Abdil Hady dalam Irsyadus Salik (227/1), Ibnu Abdil Bar dalam Al-Jami’ (2/91) dan Ibnu Hazm dalam Ushul Ahkam (6/145 dan 179), Taqiyuddin As-Subky dalam Al-Fatawa (1/148)).

•Al-Imam As-Syafi’i Rahimahullaahu

-“Tidak ada seorang pun melainkan pasti luput darinya satu Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka seringkali saya katakan suatu ucapan atau merumuskan suatu kaidah tetapi hal itu bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ucapan yang disabdakan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam itulah pendapatku.” (diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Imam Syafi’i. Sebagaimana dalam kitab Tarikh Dimasyqi karya Ibnu ‘Asakir (15/1/3), I’lamul Muwaqi’in (2/363-364), dan Al-Iqadh (hal. 200)).

-“Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa saja yang jelas baginya Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam maka tidak halal meninggalkannya hanya karena ucapan seseorang.” (diriwayatkan oleh Ibnu Qayyim (2/361) dan Al-Fulany (hal. 68)).

-“Bila kalian mendapati dalam kitabku suatu hal yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku! (dalam riwayat lain disebutkan: “Maka ikutilah ia (Sunnah Rasulullah) dan jangan sekali-kali kalian berpaling kepada ucapan orang lain!”). (diriwayatkan oleh Al-Harawy dalam Dzammul Kalam (3/47/1), Al-Khatib dalam Al-Ihtijaj bis Syafi’i (218), Ibnu ‘Asakir (1519/1), An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (1/63), Ibnu Qayyim (2/361) dan Al-Fulany (hal. 100). Sedangkan riwayat lainnya dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/107) dan Ibnu Hibban dalam Shahih beliau (3/284- Al-Ahsan) dengan sana shahih).

-“Bila telah shahih suatu hadits maka itulah madzhabku.” (diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam sumber yang sama, Asy-Sya’rani (1/57) beliau menisbatkannya kepada Al-Hakim dan Al-Baihaqi, demikian pula Al-Fulany (hal. 107)).

-“Engkau (ucapan ini ditujukan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah) lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya dibanding aku, maka bila ada hadits yang shahih beritahulah aku tentang keberadaannya, di Kufah atau Bashrah atau di Syam hingga aku akan berpendapat dengan hadits itu bilamana hadits tersebut shahih.”

-“Setiap permasalahan diman telah shahih padanya hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menurut ulama pakar hadits namun bertentangan dengan ucapanku maka aku rujuk darinya di masa hidupku atau sepeninggalku nanti.” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dal Al-Hilay (9/107), Al-Harwy (1/47), Ibnu Qayyim dalam kitab I’lamul Muwaqi’in (2/363), dan Al-Fulany (hal. 140)).

-“Jikalau kalian melihatku mengungkapkan suatu pendapat sementara telah shahih hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bertentangan dengannya maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak berguna.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Adab Asy-Syafi’i (hal. 93), Abul Qasim As-Samarqandy dalam Al-Amaly sebagaimana tercantum dlam Al-Muntaqa’ milik Abu Hafsh Al-Muaddib (1/234), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/107) serta Ibnu ‘Asakir (15/10/1) dengan sanad yang shahih).

-“Setiap apa yang aku ucapkan sementara ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertentangan dengan ucapanku maka hadits Nabi tersebut lebih layak diikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim (hal.93), Abu Nu’aim, dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad yang shahih).

-“Setiap hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim (hal. 93-94)).

•Al-Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullaahu

-“Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, atau Ats-Tsaury. Akan tetapi ambillah (agama itu) dari sumber dimana mereka mengambil.” (diriwayatkan oleh Al-Fulany (113), dan Ibnu Qayyim dalam Al-I’lam (2/302)).

-“Pendapat Al-Auza’i, begitu pula Malik, dan Abu Hanifah seluruhnya hanya pendapat dan sama nilainya di sisiku. Sedang hujjah itu terdapat pada atsar.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abdil bar dalam Al-Jami’ (2/199)).

-“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” (diriwayatkan oleh Ibnul Jauzy (hal. 182)).

----------
(sumber: Tuntunan Shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Terbitan Ash-Shaf Media. Bagian Mukadimah Cetakan Pertama)

MUNGKINKAH MEMBELA NABI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TAPI TIDAK MENAATI BELIAU SHALLALLAAHU ‘ALAHI WA SALLAM? (bag 02)

Juga dalam firman-Nya,

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzaab[33]: 36).

Kesimpulannya, tidak ada orang yang mengagungkan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kecuali hanya orang-orang yang berpegang teguh dengan petunjuk beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berjalan di atasnya serta mengikuti petunjuk beliau.[1].

Para sahabat telah memperlihatkan praktek nyata yang sangat istimewa dan tindakan yang sangat jujur dalam membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan mengorbankan jiwa, harta dan anak untuk menebus beliau dalam kondisi senang atau tidak, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman-Nya,

Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan kridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hasyr[59]: 8).

Barangsiapa yang ingin mencintai dan membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka hendaknya ia mengagungkan perkataan dan sunnah beliau melebihi pengagungannya terhadap perkataan selain beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Manakala pengagungan kepada Nabi telah meresap di hati, terpahat di dalamnya dalam kondisi apapun, maka pengaruh positifnya akan tampak nyata pada anggota badannya.

Saat itulah, akan terlihat lisannya terus memuji dan menyanjung beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta menyebut-nyebut sisi kebaikan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sementara organ tubuh lainnya juga terlihat mengikuti syariat yang dibawa beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta menjalankan apa yang menjadi hak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang berwujud pengagungan dan penghormatan. Dan bukti pengagungan yang benar dan tulus ialah mengagungkan petunjuk yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bawa berupa syariat yang terkandung dalam al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, yaitu dengan mengikuti dan berpegang teguh dengannya secara lahir dan batin serta menetapkannya sebagai hakim dalam seluruh aspek kehidupan dan segala urusan. Tidak mungkin keimanan akan sempurna tanpa itu.
Wallahu a’lam.

*Tulisan ini dikutip dari makalah Penulis berjudul Taqwiimul Mafaahi al-Khaati’ah ‘Indal Ghulaati wal Jufaati fid Difaa’i ‘anin Nabiyyi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dipresentasikan dalam muktamar bertema Nabiyyir Rahmati Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diadakan oleh Jum’iyyah al-Ilmiyyah as-Sa’uudiyyah lis Sunnati wa ‘Uluumiha di kota Riyadh Saudi Arabia.

...Alhamdulillaah selesai...

(Sumber: Majalah As-Sunnah EDISI 08/THN.XIV/MUHARRAM 1432H/DESEMBER 2010M, hlm. 36-38)
----------

[1]  Huquuqun Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ‘ala Ummatihi, 2/475

MUNGKINKAH MEMBELA NABI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TAPI TIDAK MENAATI BELIAU SHALLALLAAHU ‘ALAHI WA SALLAM? (bag 01)

Oleh: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA
----------

Kemarahan yang meledak dari umat Islam di bumi belahan timur dan barat kepada orang-orang yang melecehkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, menyisakan pertanyaan, “Sejauh manakah kita taat kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam?” Umat Islam telah berpecah belah menjadi sekian kelompok dan golongan. Setiap golongan mersa mantap dengan apa yang diyakininya. Padahal Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah memperingatkan bahaya perpecahan. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, dari Auf bin Malik bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

"Demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya. Umatku akan benar-benar terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Satu golongan di surga dan tujuh puluh dua golongan di neraka.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa mereka (yang berada di surga)?” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 1299, Ibnu Majah no. 3992, dishahihkan al-Albani).

Persatuan umat yang terbentuk di hadapan musuh ketika membela kehormatan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mestinya dijadikan momen utnuk mengajak kaum Muslimin seluruh dunia agar meninggalkan perpecahan dan silang pendapat untuk selanjutnya bersatu di bawah naungan Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan pemahaman Salaful Ummah, serta bergabung bersama para Ulama pemegang panji tauhid dan pembela kehormatan dan sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

Ketaatan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam merupakan konsekuensi dan tuntutan dari syahadat (persaksian) kita bahwa Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab persaksian bahwa Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar utusan Allah ‘Azza wa Jalla maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan berita yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sampaikan, menjauhi larangan dan peringatannya Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat beliau.

Demikianlah bentuk pengagungan yang sempurna kepada beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta penghormatan yang tertinggi. Pengagungan model apakah yang bisa diberikan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa Sallam oleh orang yang meragukan atau enggan taat kepada beliau atau mengadakan bid’ah dalam agama beliau dan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara yang tidak sesuai dengan cara beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ?! Karena itu, begitu keras pengingkaran Allah kepada orang-orang yang melakukan ibadah dengan cara-cara yang tidak pernah disyariatkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. As-Syuura[42]: 21)

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2550 dan Muslim no. 4590)

Bukti pembelaan yang serius terhadap (kehormatan) Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adalah dengan mengagungkan syari’ah (risalah) yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bawa dalam al-Quran dan Sunnah (Hadits) dengan pemahaman Salaful UmmahYaitu dengan cara mengikuti dan berpegang teguh dengannya secara lahir dan batin, selanjutnya dengan menjadikan syariat ini sebagai hakim (penengah) dalam segenap sisi kehidupan dan urusan-urusan yang khusus maupun umum. Sungguh mustahil, keimanan akan sempurna tanpa itu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Dan mereka berkata, ‘kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).’ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur[24]: 47).

Sikap ini jelas merupakan bentuk pembelaan yang hakiki dan penghormatan yang sejati. Pasalnya, standar penilaian dalam segala urusan adalah kenyataan yang terbukti, bukan sekedar penampilan lahiriah atau simbol-simbol kosong atau pernyataan hampa. Karenanya, Allah mengedepankan adab ini dari adab-adab lain yang mesti dilakukan bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Allah ‘Azza wa Jalla melarang mendahului keputusan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan keputusan yang tidak sejalan dengan keputusan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam atau pernyataan yang tidak sesuai dengan sabda beliau. Akan tetapi, mestinya mereka mengikuti segala perintah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, tunduk kepada beliau dan menjauhi larangan beliau. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman di permulaan surat al-Hujuraat :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujuraat[43]: 1).

Termasuk sikap taqaddum baina yadaihi (lancang mendahului beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) yaitu sikap lebih memprioritaskan pemakaian undang-undang dan peraturan produk manusia daripada syariat yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atau lebih mengutamakan hukum lain dari pada hukum (ketetapan hukum) beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam atau menyamakan hukum produk manusia tersebut dengan ketetapan hukum nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam atau berkomitmen untuk tetap berpegang teguh dengan ketentuan yang jelas-jelas bertentangan dengan petunjuk beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Allah berfirman :

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa[4]: 65).

Orang yang paling berkomitmen dengan sunnah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan paling besar kesempatannya untuk meneguk air dari telaga Rasulullah adalah ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena mereka menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam serta mengikuti syariat dan petunjuk beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.Sebagian orang ada yang menampakkan bahwa dirinya sedang melakukan pembelaan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, namun ironisnya, ia justru tidak menaati perintahnya atau tidak menjauhi larangan dan tidak menghiraukan peringatan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan terkadang kita temukan, sebagian dari mereka bermalasan dalam menjalankan shalat fardhu, mencukur jenggot, isbal (memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki) dan berbuat berbagai macam maksiat dan kemungkaran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah mengatakan, “Pengagungan kepada para utusan Allah diwujudkan dengan cara membenarkan berita yang mereka kabarkan dari Allah, menaati perintah mereka, mengikuti, mencintai dan berwala kepada mereka, bukan (sebaliknya) malah mendustakan risalah yang mereka emban, menomorduakan mereka atau berbuat melampaui batas dalam mengagungkan mereka. Justru ini adalah bentuk kekufuran terhadap mereka, pelecehan dan permusuhan terhadap mereka.”

Jadi, ittiba’ (mengikuti) rasul adalah barometer untuk mengukur sejauh mana kejujuran orang yang mengaku-aku mengagungkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sebab, tidak masuk di akal atau tidak dapat dibayangkan ada orang mengklaim mengagungkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menghormati beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, tapi (pada saat yang sama, dia) tidak berpegang teguh dengan perintah atau larangan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, tidak memberikan perhatian dan memperhitungkan apa yang dibawa beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.Allah telah menjadikan ittiba’  (mengikuti) Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai pertanda kecintaan kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Ali Imran[3]: 31)

Bahkan lebih dari itu, Allah ‘Azza wa Jalla menjadikannya sebagai syarat keimanan dimana pengagungan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam merupakan bagian dari keimanan itu Allah Subhaanahu wa Ta’aal berfirman,

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa[4]: 65).

Ittiba’ juga merupakan sifat kaum Mukminin, sebagaimana terkandung dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) dianta mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur[24]: 51).

...in syaa Allaah bersambung...