Monday, May 20, 2013

Manusia-manusia SEPERTI Keledai ... (2)

Keempat:

Kaum mukminin yang menyembunyikan keimanan di hadapan kaum mereka seperti sebagian keluarga Fir’aun, atau seperti an-Najasyi yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah menyalatkan jenazahnya...[7]

Perumpamaan Ini Tidak Khusus Bagi Kaum Yahudi

Para Ulama menjelaskan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada kaum Yahudi saja, akan tetapi juga mencakup siapapun yang mengabaikan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala, termasuk umat Muhammad yang mengabaikan ayat-ayat al-Quran. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah menjelaskan ayat di atas dengan berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan manusia yang telah ditugasi mengemban kitab suci-Nya untuk diyakini, dicermati, diamalkan, dan didakwahkan, namun ternyata mereka menyelisihinya, mereka sekedar menghapalnya tanpa tadabbur (penghayatan), tidak mengikuti petunjuknya, tidak pula berhukum dengannya dan mengamalkannya, sungguh mereka itu ibarat keledai yang membawa kitab-kitab namun tidak memahami isi yang terdapat didalamnya. Nasib mereka persis sama seperti nasib keledai. Perumpamaan ini sekalipun mengetengahkan contoh kaum Yahudi, akan tetapi maknanya mencakup siapapun yang mengemban kita suci al-Quran, akan tetapi tidak mengamalkannya, tidak menunaikan kandungan al-Quran atau memperhatikannya sebagaimana mestinya.”[8].

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah menegaskan bahwa megamalkan ilmu yang telah diketahui merupakan konsekuensi logis. Di hari kiamat kelak, setiap hamba akan dimintai pertanggungjawaban dari ilmu yang telah ia miliki, apakah sudah diamalkan, atau bahkan mungkin diselewengkan. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya, apa yang ia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari manakah dia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya; serta tentang raganya, bagaimana ia mempergunakannya.”[9].

Pelajaran Berharga yang Dapat Diambil dari Pembahasan Ayat Ini Diantaranya :

- Al-Quran adalah wahyu Ilaahi sehingga semua kabar maupun perumpamaan yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam al-Quran merupakan kebenaran yang hakiki.

- Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan kitab suci-Nya untuk dipelajari kemudian diamalkan dan disampaikan kepada yang belum mengetahuinya.

- Ancaman buruk bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan mengabaikan kandungannya, yaitu keserupaan dengan kaum Yahudi dan keledai.

- Orang-orang Yahudi, manusia yang bodoh lagi dungu dengan mendustakan ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mereka ketahui akan kebenarannya, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyerupakan mereka dengan hewan pandir seperti keledai.

- Wajib atas seluruh kaum Muslimin untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat musuh-musuh Allah ‘Azza wa Jalla dalam semua urusan.

- Wajib atas seluruh kaum Muslimin untuk mengamalkan al-Quran dengan sebaik-baiknya.

- Keselamatan dan hidayah seorang hamba hanyalah di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala semata.

- Hidayah Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah akan diberikan kepada orang-orang yang zhalim.

Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala selalu membimbing setiap jejak langkah kita dalam menapaki hidup ini dengan pelita al-Quran, dan cahaya Sunnah Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

*Sumber: Majalah As-Sunnah EDISI 08/THN.XIV/MUHARRAM 1432H/DESEMBER 2010M, hlm. 8-11*

...Alhamdulillaah selesai...

----------

Footnote:
[1] Tafsir as-Sa’di, hlm. 945
[2] Tafsir Ibnu Katsir 5/117
[3] Fathul Qadir 5/316
[4] Lihat Tafsir ath-Thabari 12/92-93, Tafsir as-Sa’di hlm. 945
[5] HR. Al-Bukhari no. 2589, Muslim no. 4125
[6] Tafsir Aisarut Tafasir, surat al-Jumu’ah ayat 5
[7] Ijtimaa’ al-Juyuusy al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, hlm. 26
[8] I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, 2/288
[9] HR. At-Tirmidzi no: 2417

Manusia-manusia SEPERTI Keledai ... (1)

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 5)

Penjelasan Ayat

Salah satu sifat buruk bangsa Yahudi telah disibak melalui ayat di atas. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ayat ini setelah memberikan anugerah besar yang diterima umat berupa diutusnya seorang Nabi akhir zaman di tengah mereka dengan mengemban risalah terbaik sepanjang masa.

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullaah mengatakan, “Setelah Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan anugerah (besar) kepada umat ini; dengan diutusnya seorang Nabi yang ummi(buta huruf; tidak mampu baca tulis), serta keistimewaan lain yang telah Allah ‘Azza wa Jalla khususkan bagi mereka, yang tidak dianugerahkan kepada siapapun selain mereka sehingga umat ini mengungguli manusia yang terdahulu dan yang datang kemudian, maupun Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mengklaim bahwa merekalah para ulama rabbani dan para ahli ibadah sesungguhnya. Selanjutnya Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Allah Subhaanahu wa Ta’aala embankan Taurat kepada mereka dan diperintahkan untuk mempelajari dan mengamalkannya, namun ternyata mereka tidak mengemban (amanat itu dengan baik) dan tidak pula menjalankannya. Karenanya, mereka tidak memiliki keutamaan sedikit pun, justru mereka bak keledai yang memikul kitab-kitab ilmu diatas punggungnya. Apakah keledai itu dapat memanfaatkan kitab-kitab yang berasa di atas punggungnya??! Apakah mereka akan mendapatkan kemuliaan dengan keadaan tersebut?! Ataukah nasibnya hanyalah sekedar memikul saja?! Demikianlah perumpamaan para ulama Yahudi yang tidak mengamalkan Taurat, dimana perintah tergantung dan paling utama yang ada padanya adalah agar mengikuti (petunjuk) Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan beriman kepadanya. Oleh sebab itu, orang semacam mereka hanya akan menjumpai kerugian dan hujat keburukan atas diri mereka sendiri?! Perumpamaan yang sangat sesuai dengan kondisi mereka...”[1].

Tidak saja mengabaikan kandungan kitab suci, mereka juga mengotak-atik dan merubahnya sesuai dengan hawa nafsu. Imam Ibnu Katsir rahimahullaah mengatakan, “Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyampaikan celaan bagi kaum Yahudi yang telah diberi Taurat utntuk diamalkan, namun mereka tidak menunaikannya. Perumpamaan mereka dalam hal itu tak ubahnya seperti keledai yang membawa kitab-kitab, keledai tidak mengetahui apa yang terdapat padanya sekalipun dia memikulnya. Demikian pula (kaum Yahudi) dalam membawa kitab suci yang dikaruniakan kepada mereka, mereka hanya menghafal teks-teksnya saja, tanpa memahami dan tidak pula mengamalkan substansinya. Justru mereka menyelewengkannya, meyimpangkan serta merubahnya. Dengan itu merka menjadi lebih buruk daripada keledai. Karena keledai tidak berakal, sementara mereka memiliki akal namun tidak mempergunakannya....”[2].

Asy-Syaukani rahimahullaah menyebutkan bahwa Maimun bin Mihran rahimahullaah berkata, “Keledai tidak mengetahui apa yang ada diatas punggungnya, apakah kitab suci (dari Allah) ataukah sampah? Demikianlah kaum Yahudi.”[3].Hidayah akan sulit datang kepada mereka karena sifat kezhaliman sangat melekat pada diri mereka. Karena itu, di akhir ayat Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan Allah tiada memberikan hidayah bagi kaum yang zhalim.”

Maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak akan membimbing dan memberikan hidayah taufik kepada orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan mengkufuri ayat-ayat Rabb mereka dikarenakan sifat kezhaliman dan pembangkangan masih menjadi karakter yang melekat pada mereka.”[4].

Perumpamaan yang Sangat Buruk

Seperti telah dikemukakan di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menyerupakan bangsa Yahudi dengan keledai yang termasuk jenis binatang yang bodoh dan tidak disukai manusia. Sudah tentu, permisalan tersebut betul-betul mengandung celaan bagi bangsa Yahudi. Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullaah menegaskan, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah menyerupakan manusia dengan jenis binatang melainkan dalam konteks celaan dan hinaan. Sebagaimana firman ayat di atas yang menyebutkan penyerupaan dengan keledai, dan ayat lain yang menyebutkan penyerupaan dengan anjing. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri (meninggalkan) ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai akhirnya dia tergoda, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalaulah Kami menghendaki, sesungguhnya Kami meninggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, namun dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya adalah seperti anjing; bila kamu menghalaunya, dia menjulurkan lidahnya dan bila kamu membiarkannya, maka dia kan menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami...” (QS. Al-A’raf[7]: 175-176)

Begitu pula Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menggunakan binatang sebagai perumpamaan untuk maksud yang sama (cercaan), seperti sabda beliau berikut ini,

“Seorang yang menarik kembali (hadiah) pemberiannya, maka dia tak ubahnya seperti seeokr anjing yang muntah kemudian menelan kembali muntahannya itu.”[5].

Demikianlah Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan perumpamaan yang begitu mendalam tentang kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan tidak mengamalkannya. Mereka seperti keledai bodoh yang hanya merasakan kelelahan dengan beban buku-buku tebal yang berada di atas punggungnya saja, tanpa mengetahui apa yang ada padanya. Perumpamaan ini serupa dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala,

“Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf[7]: 179).

Dan pada bagian akhir ayat utama di atas Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyatakan,

“Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala itu. Dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.”

Syaikh Abu Bakar al-Jazaairi hafizhahullaah dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebuah pelajaran berharga bahwa dalam ayat tersebut termuat cercaan bagi orang-orang yang menghafal ayat-ayat Kitabullaah (al-Quran) namun mereka tidak mengamalkan isi kandungannya.”[6].

Ragam Sikap Manusia Terhadap Ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Demikianlah perumpamaan kaum Yahudi dalam hal kebodohan mereka tentang Taurat dan keagungan ayat-ayatnya, seperti keledai dalam kebodohan mereka memikul kitab-kitab (dipunggungnya), hanyalah akan menjadi beban yang melelahkan. Setelah menjelaskan kandungan makna ayat di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah menjabarkan ragam sikap dan reaksi manusia dalam berinteraksi dengan ayat-ayat allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai petunjuk :

Pertama:
yang menerima secara lahir dan batin. Mereka ada dua macam :

     Orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Mereka itulah para ulama yang memahami dengan baik dan benar tentang maksud-maksud ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala, selanjutnya mereka dapat memetik intisari pelajaran serta rahasia hikmah yang terkandung didalamnya.

     Orang-orang yang menjaga kitab Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mengingat serta menyampaikannya, namun mereka bukan termasuk yang dapat memetik intisari hukum maupun pelajaran didalamnya dan tidak pula mampu mengungkapkan kandungan hikmahnya.

Kedua:

orang-orang yang menolak secara lahir dan batin serta mengingkarinya. Golongan ini pun terbagi menjadi dua macam :

     Kaum yang mengetahui kebenaran Kitab Allah Subhaanahu wa Ta’aala serta meyakini keabsahannya, namue mereka takluk oleh kedengkian hati, kesombonngan maupun ambisiusme kepemimpinan di hadapan kaum mereka sehingga semua itu membuat mereka menolak kitab suci Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

     Adapun yang lainnya adalah para pengikut jenis pertama kelompok ini. Mengagungkan atau mengkultuskan mereka dalam setiap ucapan, sikap dan keputusan. Menjadikan mereka sebagai panutan yang diikuti.

Ketiga:

     Mereka yang telah mendapatkan pelita hidayah kemudian menjadi buta dan tersesat, telah berilmu kemudian menjadi gelap hati tanpa cahaya, telah beriman namun kemudian berpaling kafir mengingkari. Mereka itu adalah para pemuka kaum munafiqin.

     Atau mereka yang memiliki pandangan lemah. Mereka menjauh dari mendengarkan al-Quran, kalaupun mereka mendengarnya, maka mereka menutup telinga seraya berkata, “jauhkan kami dari ayat-ayat ini!”. Bahkan seandainya mereka mampu, niscaya mereka akan mengambil tindakan buruk bagi siapapun yang memperdengarkan al-Quran atau mengajarkan kepada mereka. Nau’udzubillaah min dzaalik.

...bersambung in syaa Allaah...

Jawaban "SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAAH"

Oleh:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
----------

“Artinya : Sesungguhnya salah seorang kamu akan didatangi syetan, lalu bertanya : “Siapakah yang menciptakan kamu?” Lalu dia mejawab : “Allah”. Syetan berkata : “Kemudian siapa yang menciptakan Allah?”. Jika salah seorang kamu menemukan demikian, maka hendaklah dia membaca “amantu billahi wa rasulih” (aku beriman kepada Allah dan RasulNya), maka (godaan) yang demikian itu akan segera hilang darinya”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (6/258): “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ismail dia berkata : “Telah bercerita kepadaku Adh-Dhahak, dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (kemudian dia menyebutkan hadits itu).

Saya menilai : Hadits ini sanadnya hasan, sesuai dengan syarat Muslim. Semua perawi hadits ini adalah para perawi Muslim yang beliau jadikan pegangan dalam Shahih-nya. Tetapi Adh-Dhahak adalah Ibnu Utsman Al-Asadi Al-Huzami, dimana sebagian imam masih memperbincangkan mengenai hafalannya. Namun insya Allah hal itu tidak menurunkan haditsnya dari tingkat hasan. Bahkan Sufyan Ats-Tsauri dan Laits bin Salim, menurut Ibnus Sunni (201) sungguh telah mengikuti periwayatannya. Jadi hadits ini dapat dinilai shahih. Sementara itu Al-Mundziri dalam At-Targhib (2/266) menjelaskan. “

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang bagus, kemudian Abu Ya’la dan Al-Bazzar. Lalu Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dalam Al-Kabir dan Al-Usath dari hadits Abdullah bin Amer. Bahkan Imam Ahmad juga meriwayatkannya dari hadits Khuzaimah bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu”

Jadi adanya beberapa syahid (hadits pendukung) ini dengan sendirinya menaikkan tingkat hadits tersebut kepada derajat yang sangat shahih.

Hadits Ibnu Khuzaimah menurut Imam Ahmad (5/214) para perawinya adalah tsiqah, kecuali jika di antara mereka ada Ibnu Luhai’ah, sebab ia buruk hafalannya.

Mengenai hadits Ibnu Amer ini, Al-Haitsami (341) berkomentar : Para perawinya adalah perawi-perawi shahih, kecuali Ahmad bin Nafi’ Ath-Thihan, guru Ath-Thabrani”.

Demikian dia menandaskan namun tidak menyebutkan sedikitpun mengenai keadaan Ahmad bin Nafi Ath-Thihan tersebut, begitu tidak simpatiknya Al-Haitsami kepadanya. Demikian pula saya, sama sekali tidak mengenalnya kecuali bahwa dia orang Mesir, sebagaimana disebutkan dalam Mu’jam Ath-Thabrani Ash-Shaghir (hal. 10)

Kemudian sesungguhnya hadits itu juga diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah yang didapat dari bapaknya dari Abu Hurairah secara marfu’ sebagaimana adanya (tidak ada perubahan apapun). Hadits ini dikeluarkan pula oleh Imam Muslim (1/84) dan Ahmad (2/331) dari berbagai jalan dari Hisyam, tanpa kalimat, “sesungguhnya godaan itu akan hilang daripadanya”.

Selanjutnya hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud (4121) yang kalimatnya sampai pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya iman kepada Allah”. Dan ini merupakan riwayat Muslim.

“Artinya : Syetan akan datang pada salah seorang kamu, lalu berkata : “Siapakah yang menciptakan demikian ? Siapakah yang menciptakan demikian? Siapakah yang menciptakan demikian?” Sehingga dia bertanya : “Siapakah yang menciptakan Tuhanmu?” Apabila ia sampai demikian, maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dan menghentikannya”

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2/321), Imam Muslim dan Ibnu Sunni.

Hadits ini juga mempunyai jalur lain yang besumber dari Abu Hurairah dengan lafazh.

“Artinya : Hampir orang-orang saling bertanya di antara mereka sehingga seorang di antara mereka berkata : “Ini Allah, menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan demikian, maka katakanlah : “Allah Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Kemudian hendaklah salah seorang kamu mengusir (isyarat meludah) ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari syetan.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (4732) dan Ibnu Sunni (621) dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata : “Telah bercerita kepadaku Utbah bin Muslim, seorang budak yang dimerdekakan Bani Tamim, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah yang menuturkan : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kemudian ia menuturkan hadits itu)”.

Saya menilai : Hadits ini shahih sanadnya. Para perawinya tsiqah. Bahkan Ibnu Ishaq juga menjelaskan berita itu. Hingga dengan demikian amanlah hadits ini dari cela.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah yang mendengar dari bapaknya, sampai perkataan : “Siapakah yang menciptakan Allah Azza wa Jalla?” Umar bin Salamah melanjutkan : “Abu Hurairah menceritakan : “Demi Allah, sesungguhnya, pada suatu hari aku duduk, tiba-tiba seseorang dari penduduk Iraq berkata kepadaku “ Ini Allah, pencipta kita. Lalu siapakah yang menciptakan Allah Azza wa Jalla?” Abu Hurairah melanjutkan ceritanya : “Kemudian aku tutupkan jariku pada telingaku lalu aku menjerit seraya berkata : “Maha benar Allah dan RasulNya”. 

“Artinya : Allah Esa, tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (2/387). Para perawinya tsiqah kecuali Umar. Ia adalah lemah (dha’if).

Menurut Imam Ahmad (Juz II, hal. 539) hadits ini juga mempunyai jalur lain dari Ja’far dia memberitakan : “Telah bercerita kepadaku Yazid bin Al-Asham, dari Abu Hurairah secara marfu’, seperti hadits sebelumnya. Yazid mengisahkan : “Telah bercerita kepadaku Najmah bin Shabigh As-Salami, bahwa dia melihat para penunggang datang kepada Abu Hurairah. Kemudian mereka bertanya kepadanya mengenai hal itu. Lalu Abu Hurairah berkata : “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Tidaklah kekasihku bercerita kepadaku tentang sesuatu melainkan aku telah melihatnya dan aku menunggunya. “Ja’far berkata : “Telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Manakala orang-orang bertanya kepadamu tentang hal ini, maka katakanlah : “Allah adalah sebelum tiap-tiap sesuatu. Allah menciptakan tiap-tiap sesuatu dan Allah ada setelah tiap-tiap sesuatu”

Sanad marfu’nya adalah shahih adapun yang disampaikan oleh Ja’far alias Ibnu Burqan adalah mu’dhal (hadits yang perawi-perawinya banyak yang gugur), dan apa yang ada di antara shahih dan mu’dhal adalah mauquf. Tetapi Najmah disini tidak saya kenal. Demikian pula dalam Al-Musnad, Najmah ditulis dengan “mim” (Majmah) sedangkan dalam Al-Jarh wat Ta’dil (4/1/509), tertulis Najbah dengan “ba”. Selanjutnya Imam Ahmad menjelaskan.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dimana Yazid Ibnul Asham juga meriwayatkan darinya, dan mengatakan : “Saya mendengar bapakku berkata demikian dan tidak menambahkan!” Juga Al-Hafidzh dalam At-Ta’jil, tidak menambahkannya dan itu sesuai dengan syarat yang dibuatnya.

HUKUM-HUKUM YANG TERKANDUNG DALAM HADITS

Hadits-hadits shahih ini menunjukkan bahwa sesungguhnya bagi orang yang digoda oleh syetan dengan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?”, dia harus menghindari perdebatan dalam menjawabnya, dengan mengatakan apa yang telah ada dalam hadits-hadits tersebut. Lebih amannya ialah dia mengatakan :“Saya beriman kepada Allah dan RasulNya. Allah Esa, Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Kemudian hendaklah dia berisyarat meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan, serta menepis keragu-raguan itu”.

Saya berpendapat : Orang yang melakukan demikian semata-mata karena taat kepada Allah dan RasulNya serta ikhlas. Maka keraguan dan godaan itu akan hilang darinya dan menauhlah setannya, mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya”.

Pelajaran dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit diseputar persoalan ini. Sesungguhnya perdebatan dalam soal ini amatlah sedikit gunanya atau boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Tetapi sayang, kebanyakan orang tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini. Oleh karena itu ingatlah wahai kaum muslimin dan kenalilah sunnah Nabimu serta amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu terdapat obat dan kemulianmu.

[Disalain dari buku Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka Mantiq, hal 368-372 penerjemah Drs.HM.Qodirun Nur]

----------
sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1903/slash/0

"SYARIAT ISLAM" Mengapa Gagal

Penerapan syariat Islam jelas sesuatu yang didamba oleh setiap muslim yang masih mempunyai pengagungan terhadap agama ini. Namun, penerapannnya dalam lingkup negara jelas bukan sebuah proses instan atau tiba-tiba. Ia juga bukan hasil pemungutan suara, namun lahir dari kesadaran sehingga benar-benar bisa diterapkan secara kaffah.

Caranya juga tidak melulu dengan pendekatan kekuasaan, sehingga meniscayakan bahwa tanpa merebut kekuasaan berarti syariat Islam nonsen. Akhirnya, penganut “mazhab” ini bukannya sibuk mempelajari syariat Islam itu sendiri, seperti praktik beribadah ataupun cara berpolitik sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, malahan sibuk bagaimana menguasai kursi mayoritas, meningkatkan perolehan suara partai, atau menarik simpati seluas-luasnya, bahkan praktiknya dengan melanggar syariat Islam. Dulu menarik simpati umat dengan menjual asa akan penerapan syariat Islam. Namun kemudian, setelah tercebur dalam kubangan lumpur politik praktis, jadi minder dengan syariat Islam. Syariat Islam dan yang semacamnya dianggap isu-isu sempit, jilbab dianggap cuma secarik kain, musik jadi “halalan thayyiban”, dan sebagainya.

Penerapan syariat Islam memang bukan jargon. Ia butuh bukti nyata. Semuanya harus diawali dari diri kita sendiri. Menjadi naif jika kita tidak menegakkan syariat Islam pada diri sendiri, enggan mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam, kemudian kita meneriakkan Islam di jalan-jalan. Pantaskah kita berbicara khilafah jika kita belum memakmurkan masjid dengan sholat berjama’ah? Patutkah pula ngomong penegakkan syariat Islam jika kita masih mendukung aksi teror yang mengatasnamakan jihad? Apakah pantas mengaku sebagai partai dakwah kalau kita justru merangkul musuh-musuh dakwah? Apakah pantas juga meneriakkan syariat Islam jika kita masih mengamalkan amalan ibadah yang tidak disyariatkan dalam Islam?

Penerapan syariat Islam, negara Islam, ataupun penegakkan khilafah, sesungguhnya adalah keniscayaan jika setiap individu muslim telah benar-benar menegakkan syariat Islam pada diri mereka sendiri, mendirikan “negara Islam” pada dadanya atau menjadikan “kekhilafahan” bertakhta pada kalbunya. Semua itu tentu bukan proses yang ujung-ujung. Upaya ini jelas membutuhkan fondasi keimanan sebagai tahap persiapannya. Caranya adalah dengan memperbaiki akidah umat. Jika akidah umat ini belum diperbaiki jangan berharap umat akan siap. Terlebih pada praktiknya, tauhid (baca: akidah) yang menjadi misi dakwah para rasul, justru diposisikan pada nomor kesebelas setelah partai atau khilafah. Padahal, syariat butuh penerapan secara menyeluruh baik subjek maupun objeknya, mulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga hingga dalam tataran global.

Oleh karena itu, yang perlu digarisbawahi di sini adalah cara. Jangan sampai meniatkan untuk menegakkan syariat Islam namun justru melakukannya dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri. Kegagalan demi kegagalan penerapan syariat Islam di berbagai negara semestinya membuat kita perlu melakukan reka ulang. Banyak memang kelompok yang “menjual” syariat Islam ternyata bukan untuk kemuliaan Islam wal muslimin, tetapi untuk kepentingannya. Mereka bahkan mengabaikan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tahapannya, bersikap terburu-buru, lantas menuduh pihak lain yang tidak sejalan dengan cara berpikir mereka sebagai kelompok yang anti penerapan syariat Islam. 

Pemahaman akan syariat Islam sendiri juga mesti diluruskan. Ia tidak sebatas penerpan hukum hadd, seperti hukum potong tangan bagi pencuri atau hukuman mati bagi pembunuh. Syariat Islam lebih luas dan tidak sesedehana itu. Perlu juga dibahas hak dan kewajiban kaum kafir di tengah penerpan syariat Islam, sehingga menjadikan penegakkan syariat Islam tidak terkesan “horor”. Alhasil, hikmah dan keindahan syariat Islam yang rahmatan lil alamin bisa dirasakan setiap manusia.

(sumber: Majalah Asy-Syariah Vol. VI/No. 66/1431 H/2010. Pengantar Redaksi. Hlm 2)

Friday, May 17, 2013

kisah nyata SABAR yang mengharukan (2)

Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang  subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta’ala .”Tahukah anda apa yang dia katakan?Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.”

Kisah selesai.

Kukatakan:Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala .Allah Ta’ala berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta’ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))

Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta’ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126)

Oleh: Mamduh Farhan al-BuhairiDari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)

Dinukil dari: http://www.qiblati.com