Friday, June 14, 2013

Dengan apakah engkau hendak memahami al-qur’an dan as-sunnah?

Muqaddimah
Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya.
Namun kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kaum muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya.
Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga kita tidak boleh meyelisihi mereka?
Jawabannya adalah para sahabat Nabi (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an). Para sahabat (Radhiyallåhu ta’ala ‘anhum ajma’in) itulah orang-orang yang paling paham tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka. 1
Memahami dan Menafsirkan Nash Berdasarkan Pemahaman Para Shahabat2
Para Sahabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an) adalah pendukung-pendukung Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), merekalah yang paling memahami risalahnya.
Dalam hal ini Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ

Tidak ada seorang nabipun sebelumku yang diutus oleh Allah kepada satu umat, kecuali pada umatnya itu ada pendukung-pendukung dan Sahabat-Shåhabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya

ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ

Kemudian datang setelah mereka orang-orang yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.

فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan lidahnya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, dialah Mu’min.

وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Tidak ada iman setelah itu walau sebesar biji sawi pun.” [HR. Muslim] 3
Para Sahabat selalu bertanya kepada Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tentang segala masalah yang mereka hadapi. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa setiap kali mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya, langsung bertanya kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) sampai ia tahu. [HR. Bukhåriy] 4
Dengan ini bisa diketahui bahwa apa saja masalah yang terlintas dalam benak seseorang, yang belum ditanyakan oleh para Sahabat di saat mereka membutuhkannya dan sebab-sebabnya ada pada mereka, ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah tipu daya setan.
Yang wajib bagi da’i adalah mengambil sikap sebagaimana sikap para Sahabat, dan hendaknya ia mengetahui bahwa Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) tidak membiarkan sesuatu yang sangat kita butuhkan karena lupa atau terlupakan.
Keutamaan Sahabat
1. Ibnu Mas’ud (Rådhiyallåhu ‘anhumaa) berkata:
“Sesungguhnya Allah melihat hati seluruh manusia, maka didapatkan bahwa hati Muhammad (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) adalah yang paling baik, maka dipilihnya dan dibebani dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati seluruh manusia setelah hati Muhammad (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), maka Dia mendapatkan hati para Sahabatnya adalah hati yang terbaik, lalu mereka dijadikan pembela-pembela nabi-Nya dan berperang di atas agama-Nya.” [Atsar Shåhih, R. Ahmad]5
2. Firman Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala):
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Saba: 6)
Qatadah berkata:
“Mereka itu adalah para Sahabat Nabi.”6
Memahami Nash sesuai Pemahaman Shåhabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an)
Pertama, Dalil dari Al-Qur’an
Firman Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala):
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihanagar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Q.S. Al-Baqarah: 143)
Kata “الوسط” berarti orang-orang yang baik nan lurus. Para Sahabat adalah umat terbaik, umat yang paling lurus dalam perkataan, perbuatan, keinginan dan niat. Dari itu mereka berhak menjadi saksi bagi para rasul atas umat mereka di hari kiamat.7
Kedua, Dalil dari As-Sunnah
Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ”

“Manusia yang paling baik adalah generasi (yang hidup bersama)ku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” [HR. Bukhariy, Muslim dan Ahmad]8
Makna umum dalam hadits ini mengandung pengertian bahwa kebaikan mereka mencakup akidah, pemahaman dan perbuatan.
Ketiga, Dalil dari Ijma’
Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa:
“Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dari semua kelompok sepakat bahwa generasi terbaik dari umat ini –dalam perbuatan, perkataan, akidah dan keutamaan lainnya- adalah generasi pertama, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.
Dan mereka lebih utama dari generasi Khalaf dalam semua keutamaan ilmu, iman, pemikiran, agama, ucapan dan ibadah. Dan mereka lebih berhak untuk menjelaskan segala permasalahan. Hal ini tidak ditolak kecuali oleh orang yang menentang sesuatu yang harus diketahui dari agama Islam, dan orang yang disesatkan oleh Allah…”9
Hudzaifah Ibnul Yaman berkata:
“Bertakwalah wahai para penghafal Al-Qur’an! Ambilah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah! Seandainya kalian konsisten di atasnya, kalian pasti mendapat prestasi yang sangat tinggi. Namun seandainya kalian berpaling ke kiri dan ke kanan, niscaya kalian tersesat sejauh-jauhnya.”10
Imam Ahmad berkata:
“Dasar-dasar Ahlus-Sunnah adalah, berpegang teguh kepada apa yang dipegang oleh Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), meneladani mereka dan meninggalkan bid’ah…” 11
Keempat, Dalil dari Akal
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Adalah mustahil bila generasi-generasi terbaik –generasi yang hidup saat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) diutus, generasi berikutnya dan generasi berikutnya- tidak mengetahui dan tidak berpendapat dengan benar, karena ini menunjukkan dua kemungkinan: Pertama, tidak tahu dan tidak berpendapat. Kedua. meyakini seseuatu yang tidak benar dan pendapat yang berlawanan dengan kebenaran. Kedua kemungkinan itu tidak pernah terjadi.
Adapun tidak terjadinya kemungkinan pertama (tidak tahu), karena orang yang hatinya hidup, memiliki semangat mencari ilmu atau gairah tinggi untuk ibadah, maka tujuan utama dan cita-cita tertingginya adalah mencari mencapai kebenaran… Dan jiwa-jiwa yang hidup tidak mempunyai keinginan yang lebih tinggi daripada mencapai kebenaran. Satu hal yang pasti diketahui oleh fitrah manusia. Yang demikian ini merupakan keniscayaan pada orang-orang yang hidup di tiga generasi utama.
Tidak terjadinya kemungkinan kedua (bahwa mereka meyakini atau berpendapat yang tidak benar). Hal ini tidak mungkin diyakini oleh seorang Muslim yang mengetahui keadaan mereka.”12
Para Sahabat adalah umat yang paling paham, paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, tidak mengada-ada, paling benar tujuannya, paling sempurna fitrah dan kemampuannya dan paling sehat akalnya. Mereka menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui penafsirannya dan memahami semua maksud Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam). Karena orang yang mendengar, mengetahui dan melihat orang yang berbicara tidak sama dengan orang yang tidak melihat dan tidak mendengar langsung, atau mendengar melalui perantara, atau melalui banyak perantara. Maka dari itu, kembali kepada keyakinan dan ilmu para Sahabat adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang datang setelah mereka, yang tidak memiliki keutamaan seperti mereka.
Salaf Lebih Tahu Bahasa Al-Qur’an
Al-Qur’an turun dengan bahasa Arab, sejalan dengan penggunaan bahasa yang mereka ketahui dan kebiasaan dalam berkomunikasi. Orang yang menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, pasti lebih memahami Al-Qur’an dan menguasai bahasanya. Tidak diketahui bahwa ada orang yang lebih fasih, lantang dan benar dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab daripada orang-orang yang hidup pada tiga generasi utama. Dan yang lebih utama dari ketiga generasi itu adalah generasi Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam).
Di Antara Sebab Kesalahan dalam Tafsir: Ketidaktahuan terhadap Bahasa Arab dan Tersebarnya ‘Ujmah (Selain Bahasa Arab).
Inilah sebab pertama munculnya bid’ah di kalangan kaum Muslimin.
Al-Auza’i berkata:
“Yang pertama kali membicarakan masalah taqdir adalah seorang laki-laki dari Irak yang bernama Susan, dia seorang Kristen yang masuk Islam, kemudian kembali kepada Kristen. Kemudian Ma’bad al-Juhani13
Al-Hasan berkata:
“Hati-hatilah terhadap Ma’bad! Dia orang sesat dan menyesatkan. Dia dibunuh oleh ‘Abdul-Malik dan disalib di Damaskus pada tahun 80 H. Lihat Tahdziib al-Tahdziib, Ibnu Hajar: II/225.] belajar kepadanya dan Ghailan14 belajar kepada Ma’bad.
Asy-Syafi’i berkata:
“Tidaklah manusia menjadi bodoh dan banyak berselisih, kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih senang kepada bahasa Aristoteles”.15
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Ashmu’i:
“‘Amr bin ‘Ubaid datang kepada Abu ‘Amr bin al-’Ala, berdebat dengannya tentang siksa bagi pelaku dosa besar. ‘Amr berkata: “Wahai Abu ‘Amr! Apakah Allah akan mengingkari janji-Nya?
“Allah tidak akan mengingkari janji-Nya” Jawab Abu ‘Amr.
“Tapi Allah mengatakan seperti itu” kata ‘Amr
“Di mana?”
Lalu ‘Amr membacakan ayat yang di dalamnya ada ancaman Allah.
“Abu ‘Amr berkata: “Kamu dapatkan itu dari selain bahasa Arab. Janji (الوعد) itu tidak sama dengan ancaman (الإيعاد).”
Maksudnya, bahwa الوعد adalah untuk kebaikan seperti surga (bagi orang Mu’min) ini adalah janji, dan Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) tidak akan mengingkarinya. Sementara الوعيد (ancaman) adalah untuk keburukan, seperti siksa neraka. Ini tergantung kehendak Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala), dilaksanakan atau tidaknya.
Salaf Lebih Tahu tentang Tafsir Al-Qur’an
Mengingat tingginya penguasaan para Sahabat dan Tabi’in terhadap bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an, maka pemahaman mereka lebih kuat dan penguasaan terhadap makna-maknanya lebih dalam dibandingkan dengan orang-orang yang datang setelah mereka.
Maka apa yang dipahami oleh Salaf dari Al-Qur’an adalah lebih tepat untuk dirujuk, daripada pemahaman orang-orang setelah mereka, karena mereka sepakat dalam mengimani Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya, mengimani hari akhir dan masalah lainnya dalam akidah serta pokok-pokok agama. Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah ini.
Dari itu, metode penafsiran yang paling baik adalah: tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian dengan As-Sunnah, kemudian dengan perkataan Sahabat dan Tabi’in.16
Bahkan sebagian ahli hadits mensejajarkan penafsiran seorang Sahabat dengan hadits marfu’ (hadits yang sampai kepada Rasulullah).17
Al-Hakim berkata:
“Pencari ilmu agama mengetahui bahwa penafsiran Shåhabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an) yang menyaksikan turunnya wahyu, menurut Bukhari dan Muslim termasuk hadits yang sampai kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam).”18
Karena diketahui bahwa mereka sangat hati-hati dalam berbicara tentang Al-Qur’an tanpa dasar ilmu.
Imam Ahmad berkata:
“Boleh merujuk penafsiran salah seorang Sahabat bila tidak ada Sahabat lain yang menyelisihinya.”19
Anda tidak akan menemukan satu pun kitab Salaf dan ulama Ahlus-Sunnah yang mengikuti metodenya, kecuali di dalamnya dinukil perkataan Sahabat, Tabi’in dan para imam yang mendapat pentunjuk. Dengan itu mereka menafsirkan Al-Qur’an dan berhujjah untuk membantah orang-orang yang menyelisihi mereka, dan konsisten di atasnya untuk mencapai kebenaran.
Adapun bila ditemukan perbedaan pendapat di antara mereka dalam menafsirkan beberapa kata, maka sebenarnya itu hanya perbedaan variatif (saling melengkapi), bukan perbedaan kontradiktif (saling bertentangan). Kadang-kadang mereka menerangkan sesuatu dengan bermacam-macam keterangan, kadang-kadang masing-masing menyebutkan salah satu keterangan untuk kata yang ditafsirkan itu, atau menyebut satu contoh dengan tidak bermaksud membatasi, ada pula yang menerangkan sesuatu dengan sifat yang selalu meyertainya atau dengan padanannya, dan di antara mereka ada yang langsung menyebut salah satunya, sehingga orang yang tidak tahu mengira bahwa itu adalah perbedaan, lalu menukilnya menjadi beberapa pendapat, padahal maknanya satu.20
Sedangkan perbedaan kontradiktif sangat sedikit. Hal itu disebabkan ketidaktahuan sebagian mereka terhadap ilmu, karena tidak semua Sahabat menerima Al-Qur’an langsung dari Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tanpa perantara. Sebagian dari mereka mengambil dari Sahabat lain, sebagian hadir di saat yang lain tidak hadir dan mungkin sebagian lupa apa yang dihafal oleh yang lain.21
Beberapa Contoh Tafsir Sahabat
1. Aslam bin Yazid Abu ‘Imran berkata:
“Pada saat peperangan di Konstantinopel, ada seorang laki-laki Muhajirin yang menyerang menembus barisan musuh. Pada saat itu, Abu Ayyub al-Anshari bersama kami.
Orang-orang berkata: “ألقى بيده إلى التهلكة (Dia telah mencelakakan dirinya sendiri).
Abu Ayyub berkata:
“Kami lebih tahu tentang ayat ini. Sesungguhnya ayat ini turun kepada kami yang telah menemani Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), berjuang bersamanya dalam berbagai pertempuran dan kami membelanya. Setelah Islam tersebar dan meraih kejayaan, kami dan beberapa orang Anshar berkumpul secara rahasia.
Kami katakan:
“Allah telah memuliakan kita dengan menemani Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan membelanya, sampai Islam tersebar dan banyak pengikutnya, dan kita lebih memperhatikan beliau daripada keluarga, harta dan anak-anak kita. Sekarang peperangan telah berakhir, maka marilah kita kembali kepada keluarga dan anak-anak kita.” Maka turunlah ayat ini. (Q.S. Al-Baqarah: 195)
Jadi, yang dimaksud dengan mencelakakan diri sendiri itu adalah tinggal bersama keluarga, mengurus harta dan meninggalkan jihad.”
[Shåhih, HR. Abu Dawud dan Tirmidziy]22
2. Suatu ketika Abu Bakr rådhiyallåhu ta’ala a’nhu berkhutbah. Setelah bertahmid ia berkata:
“Wahai manusia, sungguh kalian membaca ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
(Q.S. Al-Maa-idah: 105)
Tapi kalian menempatkan bukan pada tempatnya. Karena aku mendengar Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Sesungguhnya bila manusia melihat kemunkaran dan tidak merubahnya, maka sudah dekat sekali hukuman Allah ditimpakan kepada mereka semua.”
[Atsar Shåhiih, Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad]23
Faidah Berpegang Kepada Pemahaman Salaf
Pertama – Pemahaman Salaf mencegah perpecahan dan perselisihan
Berkata ‘Umar bin al-Khaththab Rådhiyallåhu ta’ala ‘anhu (kepada Ibnu ‘Abbas rådhiyallåhu ta’ala ‘anhumaa):
“Bagaimana umat ini bisa berselisih padahal nabi mereka adalah satu dan qiblatnya satu?”
Ibnu ‘Abbas rådhiyallåhu ta’ala ‘anhumaa menjawab:
“Wahai Amirul-Mu’minin! Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui pada siapa Al-Qur’an itu turun. Kemudian akan datang setelah kita orang-orang yang membaca Al-Qur’an tetatpi tidak tahu pada siapa ia diturunkan, lalu mereka menggunakan akal mereka, dan bila mereka menggunakan akal, pastilah terjadi perselisihan, dan bila mereka berselisih, pastilah terjadi pertikaian…”24
Kedua – Memperhatikan pengamalan dan pemahaman Salaf terhadap dalil adalah bukti kebenaran penggunaan dalil dan memastikan kebenarannya
Karena pengamalan Salaf terhadap dalil terlepas dari kemungkinan-kemungkinan yang dikira-kira, memberikan kepastian, menerangkan yang global, menghilangkan kesulitan dan menolak kesalahpahaman.25
Ketiga – Tidak membicarakan apa yang tidak dibicarakan Salaf
Karena semua yang tidak dibicarakan oleh Salaf dan dibicarakan kalangan Khalaf, yang berhubungan dengan masalah akidah dan keimanan, lebih baik dan lebih tepat untuk didiamkan. Karena kalangan Khalaf hanya mendatangkan kata-kata keliru dan palsu. 26
Keempat – Memutus sumber bid’ah dan kesesatan
Karena banyak kelompok sesat yang bergantung dengan makna yang jauh yang dimungkinkan oleh dalil, lalu mereka mengarahkannya untuk mendukung madzhab dan membela bid’ah mereka.
Padahal pemahaman Salaf terhadap dalil tersebut adalah penentu dan benar, selain pemahaman itu adalah kesesatan dan penyelewengan.
Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) berfirman:

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu Telah beriman kepadanya, sungguh mereka Telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”
(Q.S. Al-Baqarah: 137)
Kelima – Salaf dan Ahlus-Sunnah menggunakan kaidah ini untuk membantah para penentang
Kita sebutkan contohnya, yaitu perkataan Ibnu ‘Abbas kepada Khawarij pada saat mendebat mereka:
Ibnu ‘Abbas berkata:
“Aku datang kepada kalian dari Sahabat-sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), di mana tidak ada satu pun di antara kalian termasuk mereka, dan aku adalah sepupu Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam). Ketahulilah bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan merekalah yang paling tahu tafsirnya” [Atsar Shahiih, Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i]27
Dalam perkataan Ibnu ‘Abbas yang penting ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya:
1. Penjelasan bahwa tidak ada seorang pun Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) yang termasuk ahli bid’ah.
2. Bahwa setiap kelompok atau madzhab yang di dalamnya tidak ada Sahabat, atau madzhab Sahabat, atau cara mereka dalam beragama, berarti para pendukungnya berkumpul di atas kesesatan dan membuat pondasi bid’ah.
3. Bahwa bergabung kepada Sahabat atau madzhab mereka dan memegang teguh manhaj mereka, adalah pangkal keselamatan dan kebahagiaan hakiki.
4. Bahwa apa yang dipegang oleh Sahabat kebenaran yang harus dijadikan acuan oleh semua orang, dan tidak sebaliknya.
5. Bahwa para Sahabat adalah yang paling tahu tentang tafsir Al-Qur’an, karena mereka menyaksikan saat turunnya dan melihat peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya, maka pemahaman dan penguasaan mereka terhadap Al-Qur’an lebih diutamakan daripada siapa pun selain mereka.28
Khatimah
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat adalah satu-satunya jalan keluar dan pilihan yang tepat. Lalu, siapakah di antara sekian banyak kelompok dalam Islam yang jalan hidupnya mengikuti Rasulullah shållallåhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Jawabannya tidak lain adalah para pengikut manhaj salaf (salafiyyun).
Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut:
Pertama
Paham-paham sesat seperti Khawarij, Rafidhah (Syi‘ah), Murji‘ah, Jahmiyah, Qadariyah, Mu‘tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ Rasyidin. Paham-paham sesat seperti itu bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan manhaj (memahami dan mengamalkan agama) Rasulullah dan para sahabat.
Bukankah tidak mungkin kita mengatakan bahwa jalan hidup para sahabat sama dengan jalan hidup mereka? Jelas tidak mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa yang benar dan perlu kita ikuti jalan hidupnya bukanlah kelompok-kelompok sesat di atas. Kalau bukan mereka itu, siapa? Jelas, Salafiyyun, yaitu orang-orang yang selalu berpegang erat dengan jalan hidup Rasulullah, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (salafush shalih).
Kedua
Tidak kita dapati kelompok-kelompok dalam Islam yang mempunyai jalan hidup seperti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak lain adalah Salafiyyun. Mengapa?
Perlu diketahui, sudah menjadi ciri khas kelompok-kelompok sesat bahwa mereka memiliki sifat berikut:
- Mendewakan akal/perasaan/hawa nafsu daripada harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahiih;
- Meragukan keadilan para shahabat sahabat; bahkan ada yang mengkafirkan sahabat;
- Tidak mengembalikan pemahaman terhadap al-qur’an dan as-sunnah sebagaimana para shahabat (dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik) memahami keduanya.
Lantas Bagaimana mungkin kelompok-kelompok itu mau mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat, sementara jalan hidup mereka seperti itu?29
Hanya Allåh-lah yang memberi taufiq dan pertolongan bagi kita semua.
Semoga Allåh menetapkan kita diatas jalan yang lurus. Aamiin.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Artikel AbuZuhriy.com
Maraji’
- Kitab al-Mukhtashar al-Hatsîts, karya Syaikh ‘Îsâ Mâlullâh Faraj, (Kuwait: Gheras, 1428 H), hal. 57-65; yang diterjemahkan secara bebas oleh:almatuq.wordpress.com
- “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari: as-Sunnah Qatar dengan beberapa perubahan dan penambahan tanpa merubah maknanya]
Catatan Kaki
  1. Muqaddimah ini dikutip dari muqaddimah artikel: “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari: as-Sunnah Qatar 
  2. Makalah ini merupakan terjemahan bebas (olehalmatuq.wordpress.com) dari kitab al-Mukhtashar al-Hatsîts, karya Syaikh ‘Îsâ Mâlullâh Faraj, (Kuwait: Gheras, 1428 H), hal. 57-65
  3. HR. Muslim, no. 50 
  4. HR Bukhari, no. 103 
  5. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad, no. 3600, dan sanadnya dishahihkan oleh Ahmad Syakir. Diriwayatkan pula oleh Hakim dalam al-Mustadrak: III/78, dan at-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabiir: IX/8582. Sanandnya dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Dha’iifah: II/17. Sedangkan yang dianggap marfuu’ (sampai kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam)) dinyatakan oleh al-Albani tidak ada sumbernya 
  6. Tafsiir al-Thabarii: XXII/ 44, lihat pula I’laamul-Muwaqqi’iin: I/14. 
  7. Lihat Tafsiir Ibn Katsiir: I/ 276. 
  8. Musnad Ahmad, no 3594, Shahiihul-Bukhaari, no. 60650 dan Shahiih Muslim, no 2533. 
  9. Majmuu’ Fataawaa: IV/157-158 
  10. Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa, Ibnul-Wadhdhah al-Andalusi, , hal. 10 dan Jaami’ Bayaanil-’Ilmi wa Fadhlih: II/119 
  11. Thabaqaatul-Hanaabilah: I/241 dan SyarhusSunnah al-Lalikai: I/156
  12. Majmuu’ Fataawaa: V/7-8 
  13. Ma’bad al-Juhani disebut-sebut sebagai anak Abdullah bin ‘Akim, atau ‘Uwaim al-Bashri. Ibnu Sa’d menyebutnya di antara Tabi’in Bashrah. Dialah yang paling pertama berbicara tentang (tidak adanya) taqdir di Bashrah dan dia sebagai pemimpinnya. Datang ke Madinah, lalu merusak pemikiran banyak orang di sana 
  14. Ghailan ad-Dimasyqi adalah seorang penulis dan ahli sastra, teman al-Harits si pembohong (nabi palsu), dan termasuk yang beriman kepadanya.
    Makhul berkata kepadanya:
    “Jangan duduk bersamaku”.
    As-Saji berkata:
    “Dia pengikut dan penyeru Qadariyyah, dilaknat oleh ‘Umar bin ‘Abdul -’Aziz. Imam Malik melarang bergaul dengannya.”
    Al-Auza’i pernah berdebat dengannya dan memfatwakan halal darahnya. Ghailan dibunuh oleh Hisyam ibn ‘Abd al-Malik. Lihat Ibnu Hajar, Lisaan al-Miizaan, juz IV, hal. 424 dan Miizaan al-I’tidaal, juz III, hal. 338 
  15. Naqdh al-Manthiq, hal. 15 
  16. Lihat Majmuu’ Fataawaa: XIII/363-370 dan Tafsiir Ibnu Katsiir: I/12-15 
  17. Lihat Ma’rifatul- ‘Uluum al-Hadiits, al-Hakim, hal. 19-21 dan al-Mustadrak: I/542 
  18. Al-Mustadrak: II/258 
  19. Lihat Mukhtasharus-Shawaa’iq: II/ 346 dan al-Madkhal ilaa Madzhab al-Imaam Ahmad, hal. 42 
  20. Lihat Majmuu’ Fataawaa: XIII/333 
  21. Lihat lebih rinci masalah ini dalam Raf’u al-Malaam ‘an Aimmat al-A’laam, Ibnu Taimiyah 
  22. HR. Abu Dawud, no. 2512, Tirmidzi, no. 2972 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahiihah, no. 13 
  23. AR. Ibnu Majah, no. 4005, Ahmad, no. 35 dan dishahihkan oleh al-Albani, Shahiihul-Jaami’, no. 3737 
  24. Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid al-Harawi, Kitaab Fadhaailil-Qur’aan wa Mu’allimuh wa Adabuh, hal. 42 
  25. Lihat al-Muwaafaqaat: III/76 
  26. Lihat I’tiqaad ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah, Muhammad Rasyad Khalil, hal. 238-239 
  27. Diriwayatkan oleh Ahmad: I/342 dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir, Abu Dawud, no. 4037 dan an-Nasa-i: V/165 
  28. Lihat Manhajul-Istidlaal ‘alaa Masaailil-I’tiqaad ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah, Utsman Ibnu ‘Ali Hasan: II/525 
  29. Khatimah ini dikutip dari khatimah artikel: “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari: as-Sunnah Qatar dengan beberapa perubahan dan penambahan tanpa merubah maknanya 

-----

Memaknai dan Memahami Syahadat "Muhammadur Råsulullåh"

Syahadat La Ilaha Illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah adalah satu rukun yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, dan keduanya menjadi satu rukun walaupun terdiri dari dua bahagian. Sebab seluruh ibadah dibangun di atas keduanya, maka tidaklah diterima ibadah itu kecuali ikhlas untuk Allah ‘Azza Wa Jalla, dan ini adalah kandungan dari syahadat La Ilaha Illallah, dan ittiba’ ‘mengikuti’ Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , dan ini adalah kandungan dari syahadat Muhammad Rasulullah.
Karena itu, mengetahui makna, kandungan dan konsekuensi (keharusan) syahadat Muhammad Rasulullah sangatlah penting sebagaimana syahadat La Ilaha Illallah. Seseorang, kalau mau masuk Islam, harus mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut, kemudian wajib memahami dan mengamalkan kedua syahadat tersebut lahir dan batin, dan wajib mengulangi kedua syahadat tersebut minimal sembilan kali dalam sehari semalam.
Syahadat Muhammad Rasulullah,atau dengan redaksi yang lebih lengkap Muhammad ‘Abdullahi wa Rasuluhu ‘Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya’, mempunyai dua dasar pokok yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.
Pokok pertama , menyamakan kedudukan Muhammad sama dengan semua makhluk di hadapan Allah walaupun derajatnya berbeda.
Pokok kedua , membedakan kedudukan Muhammad dengan mahluk yang lain karena beliau adalah seorang rasul.
Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah Jalla Jalaluhu dalam akhir surah Al-Kahfi,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakan (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa sepeti kalian yang diberikan wahyu kepadaku bahwasanya sesembahan kalian hanyalah sesembahan yang Esa.’.”
[ Al-Kahfi: 110 ]
Kemudian dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ…
“Siapa yang bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada serikat bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya ….”
Juga dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , ketika mengajarkan tasyahud kepada para shahabatnya, seperti ‘Abdullah bin Mas’ud dalam Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim , Ibnu ‘Abbas dalam Shahih Muslim , dan Abu Musa Al-Asy’ary dalam Shahih Muslim , terdapat kalimat syahadatain yaitu,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”
Kedudukan Muhammad Sebagai Hamba
Berkata Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Syaikh,
“Hamba maknanya adalah yang dimiliki, yang menyembah, yaitu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan tidak mempunyai sedikit pun sifat-sifat Rububiyah dan Uluhiyah. Sesungguhnya dia (Muhammad) hanyalah seorang hamba yang dekat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”
[Lihat Taisir Al-’Aziz Al-Hamid hal. 81-82]
Jadi, kalau dia seorang hamba (budak), tidak boleh disembah (diibadahi) melainkan harus menyembah, dan kalau dia dimiliki, tidak boleh dimintai sebab syarat untuk dimintai adalah harus memiliki (Al-Malik). Karena itu, dia tidak mampu memberi manfaat atau mudharat, bahkan dia hanya meminta manfaat kepada Allah berupa hidayah, harta, ilmu, dan sebagainya, serta berlindung pada-Nya dari segala kejelekan (mudharat) makhluk-Nya.
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,
“Dan keharusan dari syahadat ini adalah tidak boleh diyakini bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam punya hak dalam Rububiyah dan mengatur alam semesta atau punya hak dalam ibadah (hak untuk disembah). Bahkan dia (Rasulullah) seorang hamba, tidak disembah, dan Rasul tidak didustakan dan tidak memiliki sedikit pun kemampuan untuk memberi manfaat ataupun mudharat, baik kepada dirinya ataupun selain dirinya, kecuali apa yang Allah kehendaki sebagaimana firman Allah,
قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi saya perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa saya seorang malaikat. Saya tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’.”
[ Al-An’am: 50 ]
Maka dia selaku hamba diperintahkan untuk mengikuti apa-apa yang diperintahkan dengannya. Kemudian firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya saya tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk.’.”
[Al-Jin: 21]
Juga firman Allah Ta’ala,
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَالسُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Saya tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan. Saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’. .”
(al A’raaf: 188)
Lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 71.
Akan tetapi Allah menjadikan ‘ubudiyah ‘penghambaan’ sebagai sifat kesempurnaan makhluk-Nya dan menjadikan makhluk-Nya sebagai makhluk yang paling dekat kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,
لَّن يَسْتَنكِفَ الْمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبْدًا لِّلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَن يَسْتَنكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا
“Al-Masih sekali-sekali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak pula malaikat-malaikat terdekat-Nya. Barangsiapa yang enggan dari menyembah – Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada – Nya.”
[ An-Nisa: 172 ]
Juga firman-Nya,
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ
“Dan ingatlah hamba Kami Daud.”
[ Shad: 17 ]
Juga firman-Nya,
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ
“Dan ingatlah hamba Kami Ayyub.”
[ Shad: 41 ]
Juga firman-Nya,
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub.”
[ Shad: 45 ]
Juga firman-Nya,
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ
“Dan Kami telah berikan kepada Daud, Sulaiman sebaik-baik hamba.”
[ Shad: 30 ]
Allah menyifatkan makhluk-makhluk-Nya yang paling mulia dan yang paling tinggi kedudukannya di antara makhluk-makhluk-Nya dengan ‘Ubudiyah pada kedudukannya yang paling mulia.
Allah juga menyebutkan sifat ‘Ubudiyah pada kedudukan diturunkannya Al-Kitab kepada hamba-Nya dan menantang untuk mendatangkan sepertinya sebagaimana firman-Nya,
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ
“Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami maka datangkanlah satu surah semisalnya.”
[ Al-Baqarah: 23 ]
Juga firman-Nya,
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha berkah Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.”
[ Al-Furqan: 1 ]
Juga ayat-ayat lain yang semakna.
Allah menyebutkan sifat ‘Ubudiyah dalam kedudukan beribadah pada-Nya sebagaimana firman-Nya,
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ
“Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah berdiri, berdoa kepada-Nya ….”
[ Al-Jin: 19 ]
Kemudian Allah menyebutkan hamba-Nya dengan ‘ubudiyah pada kedudukan Isra`,
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلً
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada satu malam.”
[ Al-Isra`: 1 ]
Selain itu, Allah menjadikan kabar gembira secara mutlak kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ . الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
[ Az-Zumar: 17-18 ]
Allah juga menjadikan rasa aman secara mutlak bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,
يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ
“Wahai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadap kalian pada hari ini dan tidak pula bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri.”
[ Az-Zukhruf: 68-69 ]
Allah tidak memberi keleluasaan kepada syaithan untuk menguasai mereka (hamba-hamba-Nya) secara khusus kecuali yang mengikuti syaithan dan berbuat syirik kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagi kamu untuk mereka kecuali siapa yang mengikuti kamu dari orang-orang yang sesat.”
[ Al-Hijr: 42 ]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya tidak ada kekuasaan baginya (syaithan) atas orang-orang yang beriman dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka. Sesungguhnya kekuasaannya (syaithan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengannya.”
[ An-Nahl: 99-100 ]
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam menjadikan ihsan ‘ubudiyah sebagai tingkatan paling tinggi dalam beragama, sebagaimana dalam hadits ‘Umar bin Al-Khattab, yang terkenal dengan “hadits Jibril”, yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam ditanya oleh Jibril tentang ihsan, beliau menjawab, “Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.”
Baca Madarij As-Salikin jilid 1 hal. 115-117.
Akan tetapi, ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui, yaitu ‘ubudiyah kepada Allah tidak akan lepas (berhenti) dari seorang hamba selama hamba hidup di dunia, bahkan di alam barzakh dan di hari kemudian, walaupun ‘ubudiyah di dunia tentunya berbeda dengan ubudiyah di alam barzakh apalagi di hari kemudian. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan.”
[ Al-Hijr: 99 ]
Juga firman-Nya kepada penduduk neraka,
وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ . حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ
“Dan dahulu kami mendustakan hari kemudian sampai datang kepada kami keyakinan.”
[ Al-Muddatstsir: 46-47 ]
Keyakinan yang dimaksud adalah kematian menurut kesepakatan para ulama Ahli Tafsir.
Juga di dalam Shahih Al-Bukhary tentang kisah kematian ‘Utsman bin Mazh’un, Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Adapun ‘Utsman maka sesungguhnya telah datang kepadanya keyakinan dari Rabb-nya, yaitu kematian.”
Barangsiapa yang menyangka bahwasanya dia telah sampai pada kedudukan, yakni telah gugur pada dirinya kewajiban untuk menyembah, maka dia zindiq, kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, sebab sesungguhnya dia telah sampai pada kedudukan kafir kepada Allah dan berlepas diri dari agama ini. Bahkan, seorang hamba, jika kedudukan dia semakin kuat dan kokoh dalam penghambaan, maka ‘ubudiyah-nya juga semakin besar dan kewajiban dari ‘ubudiyah-nya juga semakin banyak dan lebih besar daripada orang yang berada dibawahnya. Oleh karena itu, kewajiban Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , bahkan semua rasul, lebih besar dan lebih banyak daripada umat-umat mereka, kewajiban rasul-rasul Ulul ‘Azmi lebih banyak daripada rasul-rasul selain Ulul ‘Azmi, kewajiban Ahlul ‘Ilmi lebih besar daripada selain Ahlul ‘Ilmi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap hamba tergantung pada kedudukannya (martabatnya).
Lihat Madarij As-Salikin jilid 1 hal. 118.
Kedudukan Muhammad Sebagai Rasul (Nabi)
Ahlus Sunnah Wal Jamaah menetapkan bahwasanya kenabian adalah pilihan dari Allah. Allah memilih nabi untuk hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Allah menghususkan nabi-Nya dengan rahmat-Nya, memilih nabi-Nya dengan keutamaan dan nikmat-Nya, dan bukan sekedar sifat-sifat tambahan, karena rahmat, keutamaan, dan nikmat-Nya terhadap nabi-Nya tidak bisa diperoleh dengan ilmu, latihan, banyaknya ibadah dan ketaatan, dan sebagainya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian dari Rabb kalian. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat (kenabian)-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
[ Al-Baqarah: 105 ]
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwasanya Dia memilih utusan-utusan dari para malaikat-Nya dan juga dari manusia. Dan إصطفاء ber-wazan إفتعال dari kata تصفية‘pensucian’ sebagaimana إختيار ber-wazan افتعال dari kata الخيرة ‘pemilihan’, maka Dia mensucikan dan memilih siapa yang Dia inginkan sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 124,
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”
Maka Dia lebih tahu siapa yang pantas dijadikan utusan (rasul) dari (kalangan manusia) yang tidak dijadikan-Nya utusan.”
(Lihat Minhaj As-Sunnah 5/437)
Di tempat yang lain, beliau berkata, “Allah membersihkan/memilih dari malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan dan dari manusia. Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia memberikan risalah-Nya, maka Allah menghususkan nabi-Nya dengan sifat-sifat yang membedakan nabi-Nya dengan makhluk lain dalam hal akal dan agama, dan nabi-Nya dipersiapkan untuk dikhususkan dengan keutamaan dan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Zukhruf ayat 31-32,
وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ . أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar (pada salah satu) dari dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” . ”
[az Zukhruf 31-32]
(Lihat Minhaj As-Sunnah 2/416. Perhatikan pula firman Allah dalam surah Al-Jin ayat 20-25)
Kedudukan Muhammad sebagai seorang rasul tidak boleh disamakan dengan kedudukan hamba Allah yang lain. Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa didahulukannya kata عبده ‘hamba-Nya’ daripada kataرسوله ‘rasul-Nya’ dalam kalimat syahadat Muhammad Rasulullah adalah sebagai tanjakan dari bawah ke atas, dan dikumpulkannya kedua kata tersebut (hamba dan Rasul-Nya) adalah untuk menghindari dua kutub yang berbeda: kutub ifrath (ekstrim/berlebih-lebihan) dan kutub tafrith (menyepelekan), sebagaimana yang telah terjadi pada Isa ‘ alaihis salam , dan Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam menguatkan makna ini dengan sabdanya dalam hadits ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim,
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang Nashara berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam, karena sesungguhnya saya hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(Lihat Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid hal. 82)
Orang-orang Nashara melakukan ifrath, berlebih-lebihan dalam memuliakan dan memuji Nabi Isa, dan berbanding terbalik dengan cara orang-orang Yahudi yang melakukan tafrith dalam bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap Nabi Isa.
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah menetapkan, (dengan perbuatan) melalui lisan dan (dengan) iman melalui hati, bahwasanya Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasy Al-Hasyimy adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
[ Adz-Dzariyat: 56 ]
Tidak ada ibadah kepada Allah kecuali dengan perantara wahyu yang Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam telah datang dengan wahyu tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”
[ Al-Furqan: 1 ]. ”
Konsekuensi Syahadat Muhammad Rasulullah
Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah, dalam Al-Ushul Ats-Tsalatsah , menetapkan empat perkara yang merupakan konsekuensi (keharusan dan tuntutan) dari makna syahadat Muhammad Rasulullah:
Pertama, menaati Rasulullah pada apa yang beliau perintahkan.
Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan wajibnya taat kepada Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam di dalam Al-Qur`an dan sunnah, serta menggandengkan antara ketaatan pada-Nya dengan ketaatan kepada Rasul-Nya di dalam banyak ayat, di antaranya,
أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”
[ Al-Anfal: 1 ]
Juga di dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari-Nya sedang kalian mendengar (perintah-perintah-Nya).”
[ Al-Anfal: 20 ]
Siapa yang durhaka kepada Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, dan siapa yang durhaka kepada Allah maka tempatnya adalah neraka, sebagaimana firman-Nya,
مَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang sangat besar.”
[ An-Nisa`: 13 ]
Kemudian dalam ayat berikutnya,
وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ
“Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan melampaui batasan-batasan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, dia kekal di dalamnya dan baginya adzab yang menghinakan.”
[ An-Nisa`: 14 ]
Selain itu, dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدَ أَبَى
“Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah siapakah yang enggan?’ Rasulullah menjawab, ‘Siapa yang menaatiku maka dia masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku maka sesungguhnya dia enggan.’.”
Lalu, dalam hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, disebutkan,
فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَى مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ عَصَى اللهَ
“Siapa yang menaati Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia telah menaati Allah, dan siapa yang mendurhakai Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia telah mendurhakai Allah.”
Kedua, membenarkan apa yang Rasulullah kabarkan/beritakan.
Sesungguhnya apa yang Rasulullah bawa semuanya adalah benar, karena merupakan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan dia ( Rasulullah) tidak berbicara dari hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
[ An-Najm: 3-4 ]
Juga Firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
[ Az-Zumar: 33 ]
Kemudian dalam surah lain,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, saksikanlah, (wahai para nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.’.”
[ Âli ‘Imran: 81 ]
Juga ijma’ para ulama bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam itu ma’shum ‘terjaga’ dari dusta.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah -nya, “Kemudian rasul-rasul yang benar dan dibenarkan.”
Ketiga, menjauhi apa yang Rasulullah larang dan peringatkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala ,
مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa yang Rasululah datangkan kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarang atas kalian darinya maka jauhilah, dan bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.”
[ Al-Hasyr: 7 ]
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْىءٍ فَاجْتَنَبُوْهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Dan jika saya melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan jika saya memerintah kalian kepada sesuatu maka datangkanlah (lakukanlah) sesuai kemampuan kalian.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ary yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim,
إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ وَإِنَّيْ أَنَا النَّذِيْرُ الْعُرْيَانُ
“Sesungguhnya perumpamaan aku dan perumpumaan apa yang Allah mengutus aku dengannya, seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum kemudian berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya saya melihat pasukan dengan kedua mataku dan sesungguhnya saya adalah An-Nadzir Al-‘Uryan*
فَالنَّجَاءَ فَأَطَاعَهُ طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَأَدْلَجُوْا فَانْطَلَقُوْا عَلىَ مَهْلِهِمْ
Maka sekelompok dari kaumnya menaatinya dan bergegas berjalan di malam hari dengan kehati-hatian dan mereka selamat
فَنَجَوْا وَكَذِبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ فَأَصْبَحُوْا مَكَانَهُمْ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ
Sementara sekelompok dari mereka mendustakannya, sehingga mereka tetap di tempatnya, maka pasukan itu menyerangnya di waktu Shubuh, lalu menghancurkan dan membinasakannya.
فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ أَطَاعَنِيْ فَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِيْ وَكَذَبَ بِمَا جِئْتُ بِهِ مِنَ الْحَقِّ
Yang demikian itu perumpamaan orang yang menaatiku dan mengikuti apa yang aku didatangkan dengannya, dan perumpamaan orang yang bermaksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku didatangkan dengannya dari kebenaran.”
*An-Nadzir Al-‘Uryan adalah perumpamaan yang dipakai oleh orang-orang untuk menunjukkan kebenaran apa yang ia sampaikan.
Keempat, tidak menyembah Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan apa yang Dia syariatkan.
Bukan (menyembahNya) dengan bid’ah, bukan pula dengan hawa nafsu, adat istiadat, kebiasaan, perasaan, atau anggapan-anggapan yang seseorang pandang baik, karena sesungguhnya asal dari ibadah itu adalah syariat. Nanti dikatakan ibadah kalau disyariatkan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan Rabb-nya dengan siapa pun dalam peribadahan.”
[ Al-Kahfi: 110 ]
Para ulama menafsirkan bahwa amal shalih adalah amal yang sesuai dengan syariat Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
[ Al-Maidah: 3 ]
Ayat ini menunjukkan bahwasanya agama ini telah sempurna dengan tauhid, syariat, akhlak, dan seluruh apa yang dibutuhkan oleh makhluk di muka bumi ini. Itulah nikmat yang paling besar. Al-Qur`an dan petunjuk Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam itulah yang diridhai di sisi Allah.
(Maka) barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini, dan mensyariatkan suatu syariat yang tidak disyariatkan oleh Allah dan menjadikan syariat tersebut sebagai jalan selain jalan Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , maka sesungguhnya dia telah melecehkan Allah atau kitab-Nya, baik dalam keadaan sadar maupun tidak, karena sesungguhnya Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah menyempurnakan agama-Nya.
(Sesungguhnya) kebaikan dan nikmat (kesempurnaan itu) terdapat dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam, serta sikap berpegang teguh terhadap Kitabullah dan sunnah tersebut.
Sebagai kesimpulan, berkata Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah,
“Maka, dengan ini, kamu mengetahui bahwasanya tidak berhak ibadah itu diperuntukkan. Tidak kepada Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , tidak pula kepada selainnya dari seluruh makhluk. Ibadah itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah semata.
Dan bahwasanya hak Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam adalah, kamu memberikan kedudukan kepadanya sesuai dengan kedudukan yang Allah berikan/tetapkan padanya, yaitu sebagai hamba-Nya dan Rasul-Nya.”
(Lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 72)
Wallahu waliyyut taufik.

-----

Laa ilaaha illallåh adalah kunci surga

Ibarat sebuah pintu, surga menbutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah kita apa kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.
Tetapi kita tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Shålallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallåh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “ (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih).
Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illallåh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallåh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga ? Tidak mungkin !
Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illallåh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.
Al-Iman Bukhåri meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) ditanya: “Bukankah Laa ilaaha illallåh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.
Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illallåh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illallåh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illallåh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illallåh itu ada delapan, yaitu :
Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui)
Artinya memahami makna (yakni memahami bahwa makna Laa ilaaha illallåh adalah bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi melainkan Allåh) dan maksudnya (yakni memahami segala konsekuensi yang ada didalamnya, pembatal-pembatalnya dll.), Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya :… Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86]
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya, dan dibuktikan dengan perbuatannya.
Sekiranya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna. Begitupun, jikalau ia mengerti maknanya dan melakukan persaksian, tapi persaksiannya tersebut tidak diikuti dengan perbuatan yang membenarkan persaksiannya, maka sama saja, persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.
Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini)
Maksudnya adalah kita harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illallåh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga. (HR. Muslim).
Jadi, Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” [Al-Hujurat : 15]
Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” [HR. Al-Bukhari]
Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.
Ketiga : Al-Qobulu (manerima)
Maksudnya kita harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illallåh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. kita tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illallåh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “ (QS. As-Shoffat : 35-36).
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.
Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta’ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:
“Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” [Ash-Shafat: 35-36]
Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah.
Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh)
Maksudnya kita harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illallåh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “ (QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallåh). “(QS. Luqman : 22).
Al-’Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah). [Makna “menyerahkan dirinya kepada Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (-pent)].
Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau benar)
Maksudnya kita harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illallåh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi Shålallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya. “ (HR. Bukhåri dan Muslim).
Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah: 8-10]
Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau murni)
Maksudnya kita harus membersihkan amalan kita dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain, yang merupakan syirik ashghår, yang dosanya lebih besar dari zina dan merampok), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya.
Nabi Shålallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallåh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla. “(HR. Bukhåri dan Muslim).
Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai)
Maksudnya kita harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “ (QS. Al-Baqarah : 165).
Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illallåh.
Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya)
Maksudnya kita harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga kita harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah-sembah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallåh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).
Saudaraku kaum muslimin! Dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallåh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah !
Wallahu a’lamu bish showwab
Sumber:
- Kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
- BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 13 / Shafar / 1425

-------